KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT karena buku ini selesai disusun. Buku ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh guru bahasa indonesia. Semoga buku ini dapat diterima dengan baik.
Penulis menyadari apabila dalam penyusunan buku ini terdapat kekurangan, baik dari bahasa, dan penulisan yang saya gunakan mungkin terdapat banyak kesalahan.
Akhir kata guna penyempurnaan buku ini kritik dan saran dari pembaca sangat penulis nantikan.
Mempawah, November 2018
Penulis
Atikah luthfiyah
Daftar isi
Kata pengantar
Mahasiswa baru........................................................1
Wisuda.......................................................................4
Museum bersejarah.................................................6
Jodoh pasti bertamu...............................................9
Akad.........................................................................13
Biodata penulis.......................................................14
Hari ini adalah hari pertama ospek mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya diuniversitas Sebelas Maret, kota Surakarta, Jawa tengah. Semua mahasiswa/siswi baru mengenakan kemeja hitam putih dan celana hitam. Tapi, terdapat seorang mahasiswi baru yang sedikit berbeda sehingga menjadi pusat perhatian, dia mengenakan kemeja putih yang sama dengan mahasiswi lainnya, tetapi berbeda dengan yang lain, dia mengenakan rok hitam dan jilbab panjang berwarna hitam sampai kelutut.
" Masya Allah...". Ucapan dari setiap orang yang melihat mahasiswi tersebut.
Mahasiswi itu tidak menghiraukan ucapan dari setiap orang yang melihatnya. Dia hanya terus berjalan sambil menundukkan pandangan, hingga ia sampai disebuah ruangan tempat berkumpulnya mahasiswa/siswi baru Fakultas Ilmu Budaya. Dia berjalan memasuki ruangan tersebut, lalu memilih tempat duduk dipojokan depan yang terdapat mahasiswi baru lainnya.
"Assalamu'alaikum..." Sapa mahasisiwi tersebut pada kedua perempuan yang berada disebelahnya yang sedari tadi mengobrol tanpa menyadari kehadiran mahasiswi tersebut.
"Wa'alaikumussalam...." Jawab salah seorang dari kedua perempuan itu.
" Salam kenal ya... Nama aku Luthfiyah atikah" ucap mahasiswi baru tadi.
"Wahh... Salam kenal juga, nama aku Nova dan ini temanku Risti" kata perempuan tadi yang juga ikut memperkenalkan dirinya dan teman yang ada disebelahnya.
Setelah perkenalan itu mereka melanjutkan percakapan tentang mengapa mereka memilih Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Sebelas Maret ini.
Hampir satu jam mereka bertiga mengobrol, akhirnya para senior pembimbing akan memberikan materi untuk kegiatan ospek pada hari itu.
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Selamat pagi semua...." Ucap salah seorang senior lelaki bertubuh ideal, dan tentunya berwajah tampan membuka kegiatan ospek itu yang membuat seluruh mahasiswi baru semakin bersemangat.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, Selamat pagi kak..." Jawab semua mahasiswa/siswi serempak.
"Perkenalkan nama kakak Rian... Kakak adalah ketua pembimbing di Fakultas Ilmu Budaya ini"
"Jadi, kegiatan kita hari ini hanya perkenalan sambil menyebutkan alasan kalian memilih Fakultas Ilmu Budaya disini, lalu akan dilanjutkan dengan pembagian kelompok untuk kegiatan-kegiatan ospek selanjutnya" jelas kak Rian.
Lalu....
bla...bla...bla....
Begitulah seterusnya kakak-kakak senior itu menjelaskan tentang kegiatan ospek yang akan dilaksanakan beberapa hari ini.
Dan dimulai lah tahap pertama yaitu perkenalan satu persatu mahasiswa/siswi.
"Baiklah... Sekarang kita akan memulai perkenalan diri dan kalian juga harus memberikan alasab kenapa kalian memilih fakultas ilmu budaya di universitas Sebelas Maret ini"
"Kita mulai yang pertama...." Ucap kak Rian sambil mencari-cari siapa yang akan ditunjuknya.
"Kamu.." ibu jarinya menunjuk kearah mahasiswi baru yang duduk disebelah pojok bagian depan.
Semuanya menoleh kearah Luthfiyah atikah yang memang sedari awal memasuki kampus sudah menjadi pusat perhatian.
Karena merasa telah ditunjuk kakak seniornya, Luthifiyah atikah langsung berdiri.
"Perkenalkan nama saya Luthfiyah atikah, biasanya saya dipanggil atikah, alasan saya memilih Fakultas ilmu budaya di Universitas Sebelas Maret ini adalah karena saya memang sangat mencintai kebudayaan yang ada dinegeri ini, jadi saya bercita-cita ingin melestarikan bermacam ragam kebudayaan yang ada diIndonesia dengan mempelajari tentang kebudayaan di Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Sebelas Maret" kata Atikah dengan panjang lebar lalu disambut dengan tepukan tangan oleh para senior dan mahasiswa/siswi baru lainnya.
Setelah itu atikah dipersilahkan duduk dan perkenalan dilanjutkan kepada mahasiswa/siswi lainnya.
Allahuakbar... Allahuakbar
Adzan dzuhur telah berkumandang. Seluruh mahasiswa/siswi dipersilahkan untuk beristrirahat.
Ada yang menuju ke kantin, ada yang menuju ke mushola kampus untuk melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah.
Atikah, Nova, dan Risti sedang mengambil air wudhu. Setelah itu mereka bergegas memasuki mushola karena sudah terdengar bacaan iqamah yang artinya sholat dzuhur akan segera dimulai.
"Allahuakbar....."
Ucap imam sambil melakukan gerakan takbiratul ihram, lalu diikuti para makmumnya.
Setelah selesai sholat, Atikah, Nova dan Risti tidak langsung meninggalkan mushola, karena mereka masih ingin santai sejenak ditempat yang suci itu.
"Ehh.. kalian tau gak siapa yang tadi jadi imam?" Tanya Risti yang memulai obrolan.
"Ohh iya, emang siapa sih?, suaranya itu ademm banget" kata Nova yang masih penasaran.
"Dia itu, kak Rian, senior kita" jawab Risti.
"Ohh... Jadi itu kak Rian"
"Iya... Kak Rian itu senior yang populer di Fakultas Ilmu Budaya"
"Kamu tau darimana ris?"
"Ya taulah.. soal nya kakak aku itu temenny kak Rian, dia sering banget cerita soal kak Rian, pokoknya kak Rian itu orang nya baik, sopan, pinter, trus ganteng lagi, pokoknya perfect deh buat jadi calon suami" kata Risti bercerita dengan penuh semangat.
"Iya kan tika....?" Sambungnya.
Atikah hanya membalas pertanyaan Risti dengan senyuman.
"Jangan-jangan alasan kamu masuk Fakultas Ilmu Budaya karena ada kak Rian ya ris?" Tanya Nova.
"Hahahah... Bisa dibilang begitu" jawab Risti sambil tertawa.
"Udah yuk teman-teman, kita balik keruangan, nanti kita terlambat lagi" ajak Atikah yang memotong obrolan seru Nova dan Risti.
"Oh iya.. ya udah yuk, karena asyik cerita, kita sampai lupa" kata Nova sambil bergegas melipat mukena nya lalu mereka pun keluar dari mushola menuju ruangan ospek.
Satu tahun kemudian...
Hari ini mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya menyelenggarakan acara wisuda, para mahasiswa senior telah mengenakan seragam wisuda dan toga. Mereka sedang berkumpul dihalaman kampus yang sangat luas. Mereka mengabdikan momen yang berharga itu dikamera masing-masing. Termasuk seorang mahasiswa yang tampak tengah berfoto dengan keluarga dan sahabatnya itu. Dia adalah Rian syahid. Pada tahun ini dia dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik di Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Sebelas Maret.
" Selamat ya Rian..." Ucap salah seorang temannya sambil menjabat tangan.
" Iya.. Selamat ya bro..." Sambung temannya yang satu lagi.
" makasih ya..." Kata Rian dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan itu.
" Iya nak... Selamat ya, ibu sama bapak bangga sekali sama kamu" kata ibunya yang hampir meneteskan air mata.
" Makasih buk, ini semua berkat do'a dan restu ibuk selama ini" balas Rian dengan pelukan.
" Jadi, kamu akan tetap pergi ke Jakarta nak?" Tanya bapaknya.
" InsyaAllah jadi pak... Karena memang Rian pengen langsung kerja, dan Alhamdulillah Allah langsung memberikan Rian pekerjaan, lagian kalo Rian tolak tawaran di Jakarta itu nanti takutnya susah untuk mendapat pekerjaan disini"
" Ya sudah, bapak sama ibuk mendukung kamu saja"
" Kamu enak ya yan... Abis kuliah langsung dapat tawaran pekerjaan, di Jakarta pula.."
" Ya wajar aja.... Kan dia termasuk lulusan terbaik, jadi banyak dong perusahaan yang ngincar dia, emang nya kayak kita" kata temannya yang disambut tawa temannya yang lain.
" Nggak juga kok... Kalau kalian berusaha dan selalu berdoa, insyaAllah, Allah akan memudahkan segala urusan kalian, dan semua ini juga kehendak Allah.swt, jadi pokoknya aku doakan buat kalian semua supaya cepat mendapatkan pekerjaan" ucap Rian.
"Aamiin....."
Setelah itu mereka terus melanjutkan obrolan tentang impian mereka masing-masing, tetapi Rian tiba-tiba tidak fokus dengan ucapan teman-temannya, dia lebih tertarik dengan seorang mahasiswi yang sedang berjalan dikoridor kampus. Rian terus memperhatikan mahasiswi itu sampai dia tidak terlihat lagi.
" Astagfirullah..." Ujarnya didalam hati sambil mengusap dada. Lalu terlihat salah tingkah sendiri.
Dimasjid yang letaknya tak jauh dari rumah, Rian sedang melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Setelah sholat, Rian duduk sambil berdo'a dengan suara lembut dan tidak ada yang mendengarnya, dengan penuh kekhusyukan.
" Ya rabb... Ampunilah hamba yang tidak bisa menjaga pandangan dari yang bukan mahrom hamba...
Hamba sudah melakukan dosa besar ya Allah...
Ya rabbi... Jika dia memang ditakdirkan untuk hamba, pertemukan lagi hamba dengannya ya rabb..
Pertemukan hamba pada waktu yang tepat, pada saat hamba sudah siap untuk menghalalkannya, menafkahinya lahir dan batin.
Tetapi, jika dia bukan jodoh hamba maka hapuskanlah dia dari pikiran hamba, agar hamba tidak berbuat dosa karena terus mengingat perempuan yang belum halal untuk hamba ya rabb..."
Beberapa tahun kemudian....
Didepan sebuah bangunan kuno yang sangat besar bernama " Museum Radya Pustaka"
Museum ini didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV di dalem Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890. Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pernah menjabat sebagai Patih Pakubuwono IX dan Pakubuwono X. Museum ini lalu dipindahkan ke lokasinya sekarang ini, Gedung Museum Radyapustaka di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, pada 1 Januari 1913. Kala itu gedung museum merupakan rumah kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar.
dihalaman depan gedung museum terdapat sebuah patung dada R. Ng. Rangga warsita. Ia adalah seorang pujangga keraton Surakarta yang sangat mahsyur dan hidup pada abad ke-19.
Patung ini diresmikan oleh persiden Soekarno pada tahun 1953. Didepan dan belakang patung, terdapat prasasti yang menggunakan aksara jawa.
Lalu diserambi museum ada beberapa meriam beroda dari masa yang berasal dari abad ke-17 dan ke-18. Sementara itu ada pula beberapa meriam-meriam kecil milik keraton kartasura. Selain itu juga terdapat pula beberapa arca Hindu-Buddha. Antara lain, terdapat arca Rara jongrang yang artinya, "perawan tinggi" namun sebenarnya adalah arca Dewi durga. Selain itu ada pula arca Boddhisatwa dan siwa. Arca-arca ini ditemukan di daerah Surakarta.
Luthfiyah atikah, ya itu namaku. Aku adalah seorang penulis novel sejarah. Sekarang aku sedang meriset sejarah di salah satu museum tertua diKota Solo, untuk menjadi bahan tulisanku.
Aku mulai berjalan memasuki museum, dari luar sudah diperlihatkan beberapa macam arca, dan dibagian dalam pun masih ada bermacam ragam arca lainnya. Aku berjalan mengelilingi museum itu, berbagai macam peninggalan sejarah yang aku lihat, seperti pusaka adat, wayang kulit, dan koleksi buku-buku kuno. Kata seorang petugas yang menjelaskan tentang barang-barang museum itu kepadaku. Dia mengatakan bahwa koleksi buku kuno yang sangat terkenal dan banyak dicari oleh para pengunjung adalah buku mengenai Wulang Reh karangan Pakubuwono IV yang isinya adalah mengenai petunjuk pemerintahan dan Serat Rama karangan pujangga Keraton Surakarta bernama Yasadipura I yang menceritakan tentang wiracita Ramayana.
Tak terasa hampir satu jam aku mengelilingi museum ini. Dan sepertinya bahan tulisanku sudah lebih dari cukup.
Aku pun melangkah keluar dari gedung museum tersebut.
Tiba-tiba... Gubrakkk
Aku bertabrakan dengan seorang lelaki didepan pintu masuk museum.
"Maaf..." Ucap lelaki itu kepadaku.
"Iya.. nggak apa-apa"
Aku tertegun melihat wajah lelaki itu, wajahnya terlihat tidak asing, dan sepertinya lelaki itu juga sedang memperhatikanku.
Tetapi aku cepat-cepat tersadar dari lamunanku, aku pun langsung melangkahkan kaki melewati lelaki itu.
"Maaf...." Suara lelaki itu menghentikan langkahku.
Aku berbalik arah menoleh kepadanya.
" Ada apa??"
"Boleh saya minta no.hp dan alamat rumahmu?"
Aku tersentak kaget mendengar pertanyaannya.
"Maaf... Tapi kita baru saja bertemu dan anda langsung meminta no hp dan alamat rumah saya, sepertinya itu perilaku yang tidak sopan"
"Apakah kamu sudah lupa sama saya?" Tanya lelaki itu kepadaku.
Aku berusaha mengingatnya, karena memang wajah lelaki itu tampak sangat tidak asing bagiku.
"Maaf... Tapi aku tidak bisa mengingatmu" jawabku.
"Namaku Rian syahid, aku seniormu dikampus dulu"
Setelah aku mendengar ucapannya, barulah aku dapat mengingat bahwa dia adalah kak Rian, kakak seniorku dulu.
"Ohh... Iya kak Rian, maaf kak aku nggak ingat sama kakak, dan tadi aku juga sudah bicara nggak sopan sama kakak" ucapku dengan nada menyesal.
Kak Rian langsung tersenyum tipis mendengar ucapanku.
"Iyaa... Nggak apa-apa, jadi bolehkan kakak minta no hp dan alamat rumah kamu?" Tanyanya sekali lagi.
"Iyaa kak... Boleh kok" jawabku sambil mengeluarkan kertas dan pulpen dari tas ku.
Aku menuliskan no hp alamatku kedalam secarik kertas tersebut.
"Ini kak..." Ucapku sembari memberikan secarik kertas itu kepada kak Rian.
Aku memperhatikan wajah Kak Rian saat dia mengambil kertas itu, ekspresinya seperti orang yang baru saja mendapatkan cek bertuliskan nominal yang besar.
"Ya sudah kak, aku permisi pulang dulu ya" kataku.
"Oh iyaa... Terima kasih ya, sampai jumpa lagi nanti" katanya sambil tersenyum.
Aku pun membalas senyumannya, lalu melangkahkan pergi meninggalkan kak Rian.
Aku baru saja meletakkan kepala ke atas bantal yang empuk ini, tiba-tiba hp ku berbunyi dan terdapat notif whatsapp yang masuk.
Aku dengan malas membuka hp, dan terkejut melihat pesan yang baru saja masuk itu.
"Kak rian..." Gumamku dalam hati.
Dia hanya menuliskan namanya dipesan itu, dan memintaku untuk menyimpan nomornya. Lalu aku membalasnya dengan kata "iya kak.."
Setelah aku membalas pesan itu, muncul nama kak Rian di layar hp ku.
"Kenapa tiba-tiba dia menelfon?" Tanyaku dalam hati.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengangkatnya.
"Halo assalamu'alaikum.." kataku.
"Wa'alaikumussalam tika, selamat malam" Jawabnya.
"Maaf ya kakak nelfon malam-malam"
"Iya kak, nggak apa-apa, emang nya ada apa ya?"
"Gini... Kakak cuma mau ngasi tau, kalau besok kakak mau silaturahmi kerumah kamu"
Jantungku seperti berhenti sejenak mendengar jawabannya.
"Ohh baiklah kak..." Ucapku tanpa sadar yang telah mengizinkannya untuk bertamu besok.
"Ya sudah... Sampai bertemu besok ya"
"Iya kak"
"Kalau gitu, selamat malam, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Kututup telfonnya, dan langsung bergegas menaruh hp ku keatas meja disamping tempat tidur. Lalu aku kembali membaringkan badan diatas kasur, aku menarik selimut lalu menatap kearah langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Kalimat kak Rian tadi benar-benar menghilangkan rasa kantukku. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur karena terus membayangkan apa maksud kak Rian tiba-tiba ingin bertamu kerumahku.
Keesokan harinya...
Pagi ini perasaan dan pikiran ku tidak karuan, aku sudah bersiap-siap mengenakan setelan gamis syari polos berwarna coklat susu. Setelah beberapa menit berkaca, aku bergegas keluar dari kamar.
Menuju ruang keluarga, disana papa dan mamaku sedang menonton tv acara tausiyah akbar.
"Assalamu'alaikum ma... Pa..." Ucapku yang langsung duduk disamping mamaku.
"Wa'alaikumussalam sayangg" jawab mereka bergantian.
"Pa... Ma... Hari ini ada yang mau bertamu" ucapku gugup.
Dengan serentak mereka menoleh kearahku dengan tatapan tidak biasa karena melihat tingkahku yang sedikit aneh.
"Siapa??" Tanya papa.
"Namanya........ Kak Rian pa.. dia senior tika dikampus dulu"
"Ohh ya sudah... Kapan dia datang?" Ucap papaku dengan nada santai.
"Mungkin siang ini pa.."
Tok... Tok... Tok
Suara ketukan pintu rumahku. Aku yang baru saja selesai melaksanakan sholat dzuhur langsung melepas mukenah, lalu dengan buru-buru keluar dari kamar untuk membuka kan pintu.
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang dari luar rumah.
"Wa'alaikumussalam" jawabku dari dalam sambil membuka pintu.
Nafasku berhenti sejenak melihat orang yang berada didepanku sekarang.
Ehemmm...
Katanya yang membuat dua orang yang dibelakangnya tersenyum kecil. Aku pun merasa malu karena terlalu lama tertegun.
"Hemm... Maaf, ayo silahkan masuk"
Aku mempersilahkan dia dan kedua orang yang dari tadi berada dibelakangnya itu sepertinya adalah orang tuanya untuk duduk disofa ruang tamu.
Lalu aku pergi ke dalam untuk memanggil orang tuaku. Lalu aku pergi ke dapur untuk membuat minuman.
Keluarga ku dan keluarganya tengah berkumpul diruang tamu.
Dari tadi orang tua kami mengobrol tentang ceramah ustad abdul somad yang kemarin diadakan didaerah tempat tinggal kami.
"Oh ya... Ngomong-ngomong apa tujuan nak Rian dan keluarga datang kemari?" Ucapan papaku memulai obrolan.
Aku melihat kearah kak Rian yang langsung tertunduk. Lalu papanya menoleh kearah kak Rian seperti mengisyaratkan untuk berbicara.
"Iya.. pak, sebenarmya kami berdua juga tidak mengerti, karena Rian ini tiba-tiba saja berbicara kepada kami tadi malam untuk menemaninya pergi hari ini" jawab mamanya kak Rian dengan senyum tipisnya.
" Hemm... Jadi gini pak, sebenarmya tujuan saya datang kemari adalah untuk melamar putri bapak" jawab kak Rian dengan sangat mantap.
Kami semua termasuk aku sangat terkejut mendengar hal tersebut. Kenapa tiba-tiba? Padahal baru saja kemarin kita bertemu dan itu pertama kali kami mengobrol. Dan selama dikampus kamk tidak pernah saling menyapa. Muncul berbagai macam pertanyaan dibenakku saat itu.
"Kamu yakin dengan ucapanmu nak?" Tanya papaku untuk meminta keyakinan dari kak Rian.
"InsyaaAllah, atas izin Allah saya yakin pak" jawabnya lagi semakin mantap.
"Sebagai orang tua bapak sepenuhnya menyerahkan pilihan kepada tika, tapi bapak tidak ingin tika jatuh pada orang yang salah, karena tika itu anak bapak satu-satunya, apalagi dia seorang perempuan, jadi kalo bapak boleh tau, apa alasan Rian sampai memilih anak bapak ini?"
"Alasan saya... Karena saya melihat bahwa tika ini adalah seorang wanita yang sholehah, dan sebenarnya dari awal saya bertemu dikampus, saya sudah mengagumi nya, dan nama tika selalu saya sebut didalam do'a saya, dan waktu itu saat saya pergi untuk merantau ke Jakarta, saya berdoa kepada Allah.swt jika saya memang berjodoh dengan tika maka saya ingin dipertemukan dengannya lagi pada waktu yang sudah tepat, waktu yang tepat untuk menghalalkannya, karena pada waktu saya masih dikampus, saya hanya seorang mahasiswa, jadi saya merasa belum mampu untuk menikahkan tika pada waktu itu, dan kemarin waktu saya baru kembali dari Jakarta ke sini, saya memang berencana untuk singgah kemuseum Radya Pustaka. Dan saya sangat tidak menyangka akan dipertemukan lagi dengan tika, dan pada waktu itu saya merasa bahwa Allah sudah menjawab do'a saya selama ini. Kami dipertemukan disaat yang tepat karena saat ini Alhamdulillah saya sudah mempunyai pekerjaan yang insyaAllah artinya saya sudah dapat menafkahi anak bapak jika dia menikah dengan saya, dan saya juga berjanji akan menjaga, dan membimbing tika sampai kesyurga, insyaAllah"
Ucapan kak Rian yang panjang lebar itu membuat ku tertegun. Aku tidak menyangka ternyata dari awal pertemuanku dikampus waktu itu, dia sudah mengagumiku, aku juga tidak pernah berfikir kalau lelaki yang menjadi dambaan para mahasiswi kampus dulu ternyata selama ini mengagumiku.
Orang tuaku yang mendengarkan cerita kak Rian pun sekarang saling bertatapan sambil mengangguk-angguk tersenyum.
"Baiklah... Bapak sangat puas dengan jawaban nak Rian barusan, insyaAllah sekarang bapak sudah dapat mempercayakan putri semata wayang bapak pada nak Rian"
"Dan sekarang bapak bisa menyerahkan keputusannya kepada tika"
Dan sekarang semua orang menoleh kearahku. Aku tertunduk dan mencoba berfikir dengan baik apa yang harus aku katakan.
"Jadi gimana nak tika? Nak tika menerima atau tidak lamaran anak kami?" Tanya mama kak Rian kepadaku.
"Bismillahirrohmanirrohim... Atas izin Allah, tika menerima lamaran kak Rian" ucapku dengan sangat gugup.
"Alhamdulillah..." Ucap syukur orangtuaku dan orang tua kak Rian. Terutama kak Rian yang terlihat sangat bersyukur mendengar jawabanku tadi.
Setelah lamaran hari itu. Keluargaku dan keluarganya mempersiapkan acara pernikahan. Setelah beberapa bulan persiapan, hari ini adalah hari bahagianya.
Pagi ini aku sedang didandani dengan gaun pengantin berwarna putih, make up yang natural tidak berlebihan, dan dengan tema pernikahan syari.
Dari dalam kamar aku mendengar MC pernikahan kami memyebutkan bahwa mempelai pria sudah datang. Aku yang mendengarnya merasa semakin gugup, jantungku semakin berdebar-debar.
Setelah beberapa saat acara pembukaan, akhirnya masuk waktu ijab qabul.
Dimulai dengan papaku yang dibimbing oleh pak penghulu.
"Aku nikahkan kau Rian syahid dengan anak kandungku Luthfiyah atikah binti Yusnardi dengan mas kawin cincin mas 10gram dibayar tunai"
"Saya terima nikahnya Luthfiyah atikah binti Yusnardi dengan mas kawin tersebut tunai".
"Bagaimana saksi??" Tanya pak penghulu.
"Sah...."
ALHAMDULILLAH........
Semua orang besorak-sorak mengucapkan kata sah.
Dan akupun yang dari tadi masih berada didalam kamar ikut mengucapkan Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah atas nikmatnya.
Dan sekarang aku sudah menjadi istri dari Rian syahid, dia akan menjadi imamku untuk meraih ridho Allah.swt sampai syurganya.
Setelah itu, kak Rian menjemputku kekamar untuk membawaku menuju pelaminan.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT karena buku ini selesai disusun. Buku ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh guru bahasa indonesia. Semoga buku ini dapat diterima dengan baik.
Penulis menyadari apabila dalam penyusunan buku ini terdapat kekurangan, baik dari bahasa, dan penulisan yang saya gunakan mungkin terdapat banyak kesalahan.
Akhir kata guna penyempurnaan buku ini kritik dan saran dari pembaca sangat penulis nantikan.
Mempawah, November 2018
Penulis
Atikah luthfiyah
Daftar isi
Kata pengantar
Mahasiswa baru........................................................1
Wisuda.......................................................................4
Museum bersejarah.................................................6
Jodoh pasti bertamu...............................................9
Akad.........................................................................13
Biodata penulis.......................................................14
Mahasiswa baru...
Hari ini adalah hari pertama ospek mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya diuniversitas Sebelas Maret, kota Surakarta, Jawa tengah. Semua mahasiswa/siswi baru mengenakan kemeja hitam putih dan celana hitam. Tapi, terdapat seorang mahasiswi baru yang sedikit berbeda sehingga menjadi pusat perhatian, dia mengenakan kemeja putih yang sama dengan mahasiswi lainnya, tetapi berbeda dengan yang lain, dia mengenakan rok hitam dan jilbab panjang berwarna hitam sampai kelutut.
" Masya Allah...". Ucapan dari setiap orang yang melihat mahasiswi tersebut.
Mahasiswi itu tidak menghiraukan ucapan dari setiap orang yang melihatnya. Dia hanya terus berjalan sambil menundukkan pandangan, hingga ia sampai disebuah ruangan tempat berkumpulnya mahasiswa/siswi baru Fakultas Ilmu Budaya. Dia berjalan memasuki ruangan tersebut, lalu memilih tempat duduk dipojokan depan yang terdapat mahasiswi baru lainnya.
"Assalamu'alaikum..." Sapa mahasisiwi tersebut pada kedua perempuan yang berada disebelahnya yang sedari tadi mengobrol tanpa menyadari kehadiran mahasiswi tersebut.
"Wa'alaikumussalam...." Jawab salah seorang dari kedua perempuan itu.
" Salam kenal ya... Nama aku Luthfiyah atikah" ucap mahasiswi baru tadi.
"Wahh... Salam kenal juga, nama aku Nova dan ini temanku Risti" kata perempuan tadi yang juga ikut memperkenalkan dirinya dan teman yang ada disebelahnya.
Setelah perkenalan itu mereka melanjutkan percakapan tentang mengapa mereka memilih Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Sebelas Maret ini.
Hampir satu jam mereka bertiga mengobrol, akhirnya para senior pembimbing akan memberikan materi untuk kegiatan ospek pada hari itu.
" Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Selamat pagi semua...." Ucap salah seorang senior lelaki bertubuh ideal, dan tentunya berwajah tampan membuka kegiatan ospek itu yang membuat seluruh mahasiswi baru semakin bersemangat.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, Selamat pagi kak..." Jawab semua mahasiswa/siswi serempak.
"Perkenalkan nama kakak Rian... Kakak adalah ketua pembimbing di Fakultas Ilmu Budaya ini"
"Jadi, kegiatan kita hari ini hanya perkenalan sambil menyebutkan alasan kalian memilih Fakultas Ilmu Budaya disini, lalu akan dilanjutkan dengan pembagian kelompok untuk kegiatan-kegiatan ospek selanjutnya" jelas kak Rian.
Lalu....
bla...bla...bla....
Begitulah seterusnya kakak-kakak senior itu menjelaskan tentang kegiatan ospek yang akan dilaksanakan beberapa hari ini.
Dan dimulai lah tahap pertama yaitu perkenalan satu persatu mahasiswa/siswi.
"Baiklah... Sekarang kita akan memulai perkenalan diri dan kalian juga harus memberikan alasab kenapa kalian memilih fakultas ilmu budaya di universitas Sebelas Maret ini"
"Kita mulai yang pertama...." Ucap kak Rian sambil mencari-cari siapa yang akan ditunjuknya.
"Kamu.." ibu jarinya menunjuk kearah mahasiswi baru yang duduk disebelah pojok bagian depan.
Semuanya menoleh kearah Luthfiyah atikah yang memang sedari awal memasuki kampus sudah menjadi pusat perhatian.
Karena merasa telah ditunjuk kakak seniornya, Luthifiyah atikah langsung berdiri.
"Perkenalkan nama saya Luthfiyah atikah, biasanya saya dipanggil atikah, alasan saya memilih Fakultas ilmu budaya di Universitas Sebelas Maret ini adalah karena saya memang sangat mencintai kebudayaan yang ada dinegeri ini, jadi saya bercita-cita ingin melestarikan bermacam ragam kebudayaan yang ada diIndonesia dengan mempelajari tentang kebudayaan di Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Sebelas Maret" kata Atikah dengan panjang lebar lalu disambut dengan tepukan tangan oleh para senior dan mahasiswa/siswi baru lainnya.
Setelah itu atikah dipersilahkan duduk dan perkenalan dilanjutkan kepada mahasiswa/siswi lainnya.
*****
Allahuakbar... Allahuakbar
Adzan dzuhur telah berkumandang. Seluruh mahasiswa/siswi dipersilahkan untuk beristrirahat.
Ada yang menuju ke kantin, ada yang menuju ke mushola kampus untuk melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah.
Atikah, Nova, dan Risti sedang mengambil air wudhu. Setelah itu mereka bergegas memasuki mushola karena sudah terdengar bacaan iqamah yang artinya sholat dzuhur akan segera dimulai.
"Allahuakbar....."
Ucap imam sambil melakukan gerakan takbiratul ihram, lalu diikuti para makmumnya.
Setelah selesai sholat, Atikah, Nova dan Risti tidak langsung meninggalkan mushola, karena mereka masih ingin santai sejenak ditempat yang suci itu.
"Ehh.. kalian tau gak siapa yang tadi jadi imam?" Tanya Risti yang memulai obrolan.
"Ohh iya, emang siapa sih?, suaranya itu ademm banget" kata Nova yang masih penasaran.
"Dia itu, kak Rian, senior kita" jawab Risti.
"Ohh... Jadi itu kak Rian"
"Iya... Kak Rian itu senior yang populer di Fakultas Ilmu Budaya"
"Kamu tau darimana ris?"
"Ya taulah.. soal nya kakak aku itu temenny kak Rian, dia sering banget cerita soal kak Rian, pokoknya kak Rian itu orang nya baik, sopan, pinter, trus ganteng lagi, pokoknya perfect deh buat jadi calon suami" kata Risti bercerita dengan penuh semangat.
"Iya kan tika....?" Sambungnya.
Atikah hanya membalas pertanyaan Risti dengan senyuman.
"Jangan-jangan alasan kamu masuk Fakultas Ilmu Budaya karena ada kak Rian ya ris?" Tanya Nova.
"Hahahah... Bisa dibilang begitu" jawab Risti sambil tertawa.
"Udah yuk teman-teman, kita balik keruangan, nanti kita terlambat lagi" ajak Atikah yang memotong obrolan seru Nova dan Risti.
"Oh iya.. ya udah yuk, karena asyik cerita, kita sampai lupa" kata Nova sambil bergegas melipat mukena nya lalu mereka pun keluar dari mushola menuju ruangan ospek.
Wisuda
Satu tahun kemudian...
Hari ini mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya menyelenggarakan acara wisuda, para mahasiswa senior telah mengenakan seragam wisuda dan toga. Mereka sedang berkumpul dihalaman kampus yang sangat luas. Mereka mengabdikan momen yang berharga itu dikamera masing-masing. Termasuk seorang mahasiswa yang tampak tengah berfoto dengan keluarga dan sahabatnya itu. Dia adalah Rian syahid. Pada tahun ini dia dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik di Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Sebelas Maret.
" Selamat ya Rian..." Ucap salah seorang temannya sambil menjabat tangan.
" Iya.. Selamat ya bro..." Sambung temannya yang satu lagi.
" makasih ya..." Kata Rian dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan itu.
" Iya nak... Selamat ya, ibu sama bapak bangga sekali sama kamu" kata ibunya yang hampir meneteskan air mata.
" Makasih buk, ini semua berkat do'a dan restu ibuk selama ini" balas Rian dengan pelukan.
" Jadi, kamu akan tetap pergi ke Jakarta nak?" Tanya bapaknya.
" InsyaAllah jadi pak... Karena memang Rian pengen langsung kerja, dan Alhamdulillah Allah langsung memberikan Rian pekerjaan, lagian kalo Rian tolak tawaran di Jakarta itu nanti takutnya susah untuk mendapat pekerjaan disini"
" Ya sudah, bapak sama ibuk mendukung kamu saja"
" Kamu enak ya yan... Abis kuliah langsung dapat tawaran pekerjaan, di Jakarta pula.."
" Ya wajar aja.... Kan dia termasuk lulusan terbaik, jadi banyak dong perusahaan yang ngincar dia, emang nya kayak kita" kata temannya yang disambut tawa temannya yang lain.
" Nggak juga kok... Kalau kalian berusaha dan selalu berdoa, insyaAllah, Allah akan memudahkan segala urusan kalian, dan semua ini juga kehendak Allah.swt, jadi pokoknya aku doakan buat kalian semua supaya cepat mendapatkan pekerjaan" ucap Rian.
"Aamiin....."
Setelah itu mereka terus melanjutkan obrolan tentang impian mereka masing-masing, tetapi Rian tiba-tiba tidak fokus dengan ucapan teman-temannya, dia lebih tertarik dengan seorang mahasiswi yang sedang berjalan dikoridor kampus. Rian terus memperhatikan mahasiswi itu sampai dia tidak terlihat lagi.
" Astagfirullah..." Ujarnya didalam hati sambil mengusap dada. Lalu terlihat salah tingkah sendiri.
*****
Dimasjid yang letaknya tak jauh dari rumah, Rian sedang melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Setelah sholat, Rian duduk sambil berdo'a dengan suara lembut dan tidak ada yang mendengarnya, dengan penuh kekhusyukan.
" Ya rabb... Ampunilah hamba yang tidak bisa menjaga pandangan dari yang bukan mahrom hamba...
Hamba sudah melakukan dosa besar ya Allah...
Ya rabbi... Jika dia memang ditakdirkan untuk hamba, pertemukan lagi hamba dengannya ya rabb..
Pertemukan hamba pada waktu yang tepat, pada saat hamba sudah siap untuk menghalalkannya, menafkahinya lahir dan batin.
Tetapi, jika dia bukan jodoh hamba maka hapuskanlah dia dari pikiran hamba, agar hamba tidak berbuat dosa karena terus mengingat perempuan yang belum halal untuk hamba ya rabb..."
Museum bersejarah
Beberapa tahun kemudian....
Didepan sebuah bangunan kuno yang sangat besar bernama " Museum Radya Pustaka"
Museum ini didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV di dalem Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890. Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pernah menjabat sebagai Patih Pakubuwono IX dan Pakubuwono X. Museum ini lalu dipindahkan ke lokasinya sekarang ini, Gedung Museum Radyapustaka di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, pada 1 Januari 1913. Kala itu gedung museum merupakan rumah kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar.
dihalaman depan gedung museum terdapat sebuah patung dada R. Ng. Rangga warsita. Ia adalah seorang pujangga keraton Surakarta yang sangat mahsyur dan hidup pada abad ke-19.
Patung ini diresmikan oleh persiden Soekarno pada tahun 1953. Didepan dan belakang patung, terdapat prasasti yang menggunakan aksara jawa.
Lalu diserambi museum ada beberapa meriam beroda dari masa yang berasal dari abad ke-17 dan ke-18. Sementara itu ada pula beberapa meriam-meriam kecil milik keraton kartasura. Selain itu juga terdapat pula beberapa arca Hindu-Buddha. Antara lain, terdapat arca Rara jongrang yang artinya, "perawan tinggi" namun sebenarnya adalah arca Dewi durga. Selain itu ada pula arca Boddhisatwa dan siwa. Arca-arca ini ditemukan di daerah Surakarta.
Luthfiyah atikah, ya itu namaku. Aku adalah seorang penulis novel sejarah. Sekarang aku sedang meriset sejarah di salah satu museum tertua diKota Solo, untuk menjadi bahan tulisanku.
Aku mulai berjalan memasuki museum, dari luar sudah diperlihatkan beberapa macam arca, dan dibagian dalam pun masih ada bermacam ragam arca lainnya. Aku berjalan mengelilingi museum itu, berbagai macam peninggalan sejarah yang aku lihat, seperti pusaka adat, wayang kulit, dan koleksi buku-buku kuno. Kata seorang petugas yang menjelaskan tentang barang-barang museum itu kepadaku. Dia mengatakan bahwa koleksi buku kuno yang sangat terkenal dan banyak dicari oleh para pengunjung adalah buku mengenai Wulang Reh karangan Pakubuwono IV yang isinya adalah mengenai petunjuk pemerintahan dan Serat Rama karangan pujangga Keraton Surakarta bernama Yasadipura I yang menceritakan tentang wiracita Ramayana.
*****
Tak terasa hampir satu jam aku mengelilingi museum ini. Dan sepertinya bahan tulisanku sudah lebih dari cukup.
Aku pun melangkah keluar dari gedung museum tersebut.
Tiba-tiba... Gubrakkk
Aku bertabrakan dengan seorang lelaki didepan pintu masuk museum.
"Maaf..." Ucap lelaki itu kepadaku.
"Iya.. nggak apa-apa"
Aku tertegun melihat wajah lelaki itu, wajahnya terlihat tidak asing, dan sepertinya lelaki itu juga sedang memperhatikanku.
Tetapi aku cepat-cepat tersadar dari lamunanku, aku pun langsung melangkahkan kaki melewati lelaki itu.
"Maaf...." Suara lelaki itu menghentikan langkahku.
Aku berbalik arah menoleh kepadanya.
" Ada apa??"
"Boleh saya minta no.hp dan alamat rumahmu?"
Aku tersentak kaget mendengar pertanyaannya.
"Maaf... Tapi kita baru saja bertemu dan anda langsung meminta no hp dan alamat rumah saya, sepertinya itu perilaku yang tidak sopan"
"Apakah kamu sudah lupa sama saya?" Tanya lelaki itu kepadaku.
Aku berusaha mengingatnya, karena memang wajah lelaki itu tampak sangat tidak asing bagiku.
"Maaf... Tapi aku tidak bisa mengingatmu" jawabku.
"Namaku Rian syahid, aku seniormu dikampus dulu"
Setelah aku mendengar ucapannya, barulah aku dapat mengingat bahwa dia adalah kak Rian, kakak seniorku dulu.
"Ohh... Iya kak Rian, maaf kak aku nggak ingat sama kakak, dan tadi aku juga sudah bicara nggak sopan sama kakak" ucapku dengan nada menyesal.
Kak Rian langsung tersenyum tipis mendengar ucapanku.
"Iyaa... Nggak apa-apa, jadi bolehkan kakak minta no hp dan alamat rumah kamu?" Tanyanya sekali lagi.
"Iyaa kak... Boleh kok" jawabku sambil mengeluarkan kertas dan pulpen dari tas ku.
Aku menuliskan no hp alamatku kedalam secarik kertas tersebut.
"Ini kak..." Ucapku sembari memberikan secarik kertas itu kepada kak Rian.
Aku memperhatikan wajah Kak Rian saat dia mengambil kertas itu, ekspresinya seperti orang yang baru saja mendapatkan cek bertuliskan nominal yang besar.
"Ya sudah kak, aku permisi pulang dulu ya" kataku.
"Oh iyaa... Terima kasih ya, sampai jumpa lagi nanti" katanya sambil tersenyum.
Aku pun membalas senyumannya, lalu melangkahkan pergi meninggalkan kak Rian.
Jodoh pasti bertamu
Aku baru saja meletakkan kepala ke atas bantal yang empuk ini, tiba-tiba hp ku berbunyi dan terdapat notif whatsapp yang masuk.
Aku dengan malas membuka hp, dan terkejut melihat pesan yang baru saja masuk itu.
"Kak rian..." Gumamku dalam hati.
Dia hanya menuliskan namanya dipesan itu, dan memintaku untuk menyimpan nomornya. Lalu aku membalasnya dengan kata "iya kak.."
Setelah aku membalas pesan itu, muncul nama kak Rian di layar hp ku.
"Kenapa tiba-tiba dia menelfon?" Tanyaku dalam hati.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengangkatnya.
"Halo assalamu'alaikum.." kataku.
"Wa'alaikumussalam tika, selamat malam" Jawabnya.
"Maaf ya kakak nelfon malam-malam"
"Iya kak, nggak apa-apa, emang nya ada apa ya?"
"Gini... Kakak cuma mau ngasi tau, kalau besok kakak mau silaturahmi kerumah kamu"
Jantungku seperti berhenti sejenak mendengar jawabannya.
"Ohh baiklah kak..." Ucapku tanpa sadar yang telah mengizinkannya untuk bertamu besok.
"Ya sudah... Sampai bertemu besok ya"
"Iya kak"
"Kalau gitu, selamat malam, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Kututup telfonnya, dan langsung bergegas menaruh hp ku keatas meja disamping tempat tidur. Lalu aku kembali membaringkan badan diatas kasur, aku menarik selimut lalu menatap kearah langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Kalimat kak Rian tadi benar-benar menghilangkan rasa kantukku. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur karena terus membayangkan apa maksud kak Rian tiba-tiba ingin bertamu kerumahku.
*****
Keesokan harinya...
Pagi ini perasaan dan pikiran ku tidak karuan, aku sudah bersiap-siap mengenakan setelan gamis syari polos berwarna coklat susu. Setelah beberapa menit berkaca, aku bergegas keluar dari kamar.
Menuju ruang keluarga, disana papa dan mamaku sedang menonton tv acara tausiyah akbar.
"Assalamu'alaikum ma... Pa..." Ucapku yang langsung duduk disamping mamaku.
"Wa'alaikumussalam sayangg" jawab mereka bergantian.
"Pa... Ma... Hari ini ada yang mau bertamu" ucapku gugup.
Dengan serentak mereka menoleh kearahku dengan tatapan tidak biasa karena melihat tingkahku yang sedikit aneh.
"Siapa??" Tanya papa.
"Namanya........ Kak Rian pa.. dia senior tika dikampus dulu"
"Ohh ya sudah... Kapan dia datang?" Ucap papaku dengan nada santai.
"Mungkin siang ini pa.."
*****
Tok... Tok... Tok
Suara ketukan pintu rumahku. Aku yang baru saja selesai melaksanakan sholat dzuhur langsung melepas mukenah, lalu dengan buru-buru keluar dari kamar untuk membuka kan pintu.
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang dari luar rumah.
"Wa'alaikumussalam" jawabku dari dalam sambil membuka pintu.
Nafasku berhenti sejenak melihat orang yang berada didepanku sekarang.
Ehemmm...
Katanya yang membuat dua orang yang dibelakangnya tersenyum kecil. Aku pun merasa malu karena terlalu lama tertegun.
"Hemm... Maaf, ayo silahkan masuk"
Aku mempersilahkan dia dan kedua orang yang dari tadi berada dibelakangnya itu sepertinya adalah orang tuanya untuk duduk disofa ruang tamu.
Lalu aku pergi ke dalam untuk memanggil orang tuaku. Lalu aku pergi ke dapur untuk membuat minuman.
*****
Keluarga ku dan keluarganya tengah berkumpul diruang tamu.
Dari tadi orang tua kami mengobrol tentang ceramah ustad abdul somad yang kemarin diadakan didaerah tempat tinggal kami.
"Oh ya... Ngomong-ngomong apa tujuan nak Rian dan keluarga datang kemari?" Ucapan papaku memulai obrolan.
Aku melihat kearah kak Rian yang langsung tertunduk. Lalu papanya menoleh kearah kak Rian seperti mengisyaratkan untuk berbicara.
"Iya.. pak, sebenarmya kami berdua juga tidak mengerti, karena Rian ini tiba-tiba saja berbicara kepada kami tadi malam untuk menemaninya pergi hari ini" jawab mamanya kak Rian dengan senyum tipisnya.
" Hemm... Jadi gini pak, sebenarmya tujuan saya datang kemari adalah untuk melamar putri bapak" jawab kak Rian dengan sangat mantap.
Kami semua termasuk aku sangat terkejut mendengar hal tersebut. Kenapa tiba-tiba? Padahal baru saja kemarin kita bertemu dan itu pertama kali kami mengobrol. Dan selama dikampus kamk tidak pernah saling menyapa. Muncul berbagai macam pertanyaan dibenakku saat itu.
"Kamu yakin dengan ucapanmu nak?" Tanya papaku untuk meminta keyakinan dari kak Rian.
"InsyaaAllah, atas izin Allah saya yakin pak" jawabnya lagi semakin mantap.
"Sebagai orang tua bapak sepenuhnya menyerahkan pilihan kepada tika, tapi bapak tidak ingin tika jatuh pada orang yang salah, karena tika itu anak bapak satu-satunya, apalagi dia seorang perempuan, jadi kalo bapak boleh tau, apa alasan Rian sampai memilih anak bapak ini?"
"Alasan saya... Karena saya melihat bahwa tika ini adalah seorang wanita yang sholehah, dan sebenarnya dari awal saya bertemu dikampus, saya sudah mengagumi nya, dan nama tika selalu saya sebut didalam do'a saya, dan waktu itu saat saya pergi untuk merantau ke Jakarta, saya berdoa kepada Allah.swt jika saya memang berjodoh dengan tika maka saya ingin dipertemukan dengannya lagi pada waktu yang sudah tepat, waktu yang tepat untuk menghalalkannya, karena pada waktu saya masih dikampus, saya hanya seorang mahasiswa, jadi saya merasa belum mampu untuk menikahkan tika pada waktu itu, dan kemarin waktu saya baru kembali dari Jakarta ke sini, saya memang berencana untuk singgah kemuseum Radya Pustaka. Dan saya sangat tidak menyangka akan dipertemukan lagi dengan tika, dan pada waktu itu saya merasa bahwa Allah sudah menjawab do'a saya selama ini. Kami dipertemukan disaat yang tepat karena saat ini Alhamdulillah saya sudah mempunyai pekerjaan yang insyaAllah artinya saya sudah dapat menafkahi anak bapak jika dia menikah dengan saya, dan saya juga berjanji akan menjaga, dan membimbing tika sampai kesyurga, insyaAllah"
Ucapan kak Rian yang panjang lebar itu membuat ku tertegun. Aku tidak menyangka ternyata dari awal pertemuanku dikampus waktu itu, dia sudah mengagumiku, aku juga tidak pernah berfikir kalau lelaki yang menjadi dambaan para mahasiswi kampus dulu ternyata selama ini mengagumiku.
Orang tuaku yang mendengarkan cerita kak Rian pun sekarang saling bertatapan sambil mengangguk-angguk tersenyum.
"Baiklah... Bapak sangat puas dengan jawaban nak Rian barusan, insyaAllah sekarang bapak sudah dapat mempercayakan putri semata wayang bapak pada nak Rian"
"Dan sekarang bapak bisa menyerahkan keputusannya kepada tika"
Dan sekarang semua orang menoleh kearahku. Aku tertunduk dan mencoba berfikir dengan baik apa yang harus aku katakan.
"Jadi gimana nak tika? Nak tika menerima atau tidak lamaran anak kami?" Tanya mama kak Rian kepadaku.
"Bismillahirrohmanirrohim... Atas izin Allah, tika menerima lamaran kak Rian" ucapku dengan sangat gugup.
"Alhamdulillah..." Ucap syukur orangtuaku dan orang tua kak Rian. Terutama kak Rian yang terlihat sangat bersyukur mendengar jawabanku tadi.
Akad
Setelah lamaran hari itu. Keluargaku dan keluarganya mempersiapkan acara pernikahan. Setelah beberapa bulan persiapan, hari ini adalah hari bahagianya.
Pagi ini aku sedang didandani dengan gaun pengantin berwarna putih, make up yang natural tidak berlebihan, dan dengan tema pernikahan syari.
Dari dalam kamar aku mendengar MC pernikahan kami memyebutkan bahwa mempelai pria sudah datang. Aku yang mendengarnya merasa semakin gugup, jantungku semakin berdebar-debar.
Setelah beberapa saat acara pembukaan, akhirnya masuk waktu ijab qabul.
Dimulai dengan papaku yang dibimbing oleh pak penghulu.
"Aku nikahkan kau Rian syahid dengan anak kandungku Luthfiyah atikah binti Yusnardi dengan mas kawin cincin mas 10gram dibayar tunai"
"Saya terima nikahnya Luthfiyah atikah binti Yusnardi dengan mas kawin tersebut tunai".
"Bagaimana saksi??" Tanya pak penghulu.
"Sah...."
ALHAMDULILLAH........
Semua orang besorak-sorak mengucapkan kata sah.
Dan akupun yang dari tadi masih berada didalam kamar ikut mengucapkan Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah atas nikmatnya.
Dan sekarang aku sudah menjadi istri dari Rian syahid, dia akan menjadi imamku untuk meraih ridho Allah.swt sampai syurganya.
Setelah itu, kak Rian menjemputku kekamar untuk membawaku menuju pelaminan.
Tamat
Komentar
Posting Komentar